Objek Cagar Budaya
Menampilkan 59 Objek
Nasional
Lihat 18 situs lainnya →
Komplek Makam Raja-Raja Sorkam
Kisah di tempat ini berpusat pada sosok ulama sufi bernama Syekh Mahmud (Syeikh Al Alam AL Muchtazam, Syeikh Machmud). Pada abad ke-7, beliau berlayar jauh dari tanah Yaman dengan niat awal menuju Samudera Pasai di Aceh. Namun, gelombang Samudera membawa kapalnya salah arah hingga terdampar di pesisir Barus.Di Barus, Syekh Mahmud tidak hanya menetap, tetapi juga berdakwah dan berniaga. Beliau menjadi salah satu saudagar yang mendagangkan kapur Barus—komoditas masyhur yang bahkan konon sudah dikenal sejak era Firaun.Awalnya, perjuangan dakwah beliau mendapat penentangan dari Kerajaan Barus hingga Syekh Mahmud diasingkan ke Aceh Singkil. Namun, di tempat pengasingan pun ajaran Islam yang dipraktikkannya berkembang pesat. Mendengar kabar tersebarnya Islam di Singkil, Raja Barus memanggil beliau kembali. Momen tersebut menjadi titik balik sejarah: sang Raja beserta pengikutnya memeluk agama Islam dan memberikan kuasa penuh kepada Syekh Mahmud untuk mensyiarkan ajaran Islam di Barus.Keunikan utama kompleks makam ini terletak pada bentuk nisannya. Sebagian besar nisan dibuat menyerupai gada segi delapan dan pipih segi empat, dengan berbagai variasi bentuk yang memperlihatkan keterampilan seni pahat masyarakat Melayu pada zamannya. Ragam bentuk tersebut bukan hanya berfungsi sebagai penanda makam, melainkan juga menjadi simbol status, identitas, dan estetika budaya yang berkembang pada masa Kerajaan Sorkam. Melalui pahatan yang sederhana namun penuh makna, masyarakat masa lampau berhasil meninggalkan warisan seni yang hingga kini masih dapat dinikmati dan dipelajari sebagai bagian dari perkembangan budaya Islam di wilayah pesisir barat Sumatera.Nilai sejarah kompleks makam semakin kuat melalui keberadaan inskripsi kaligrafi Arab Melayu yang dipahat pada sejumlah nisan. Pada salah satu nisan di bagian utara, tertera tulisan yang menyebutkan wafatnya Raja Sorkam, Raja Amar, disertai penanggalan 1261 Hijriah. Kalimat tersebut tidak hanya menjadi penanda identitas tokoh yang dimakamkan, tetapi juga memberikan informasi penting mengenai penggunaan aksara Arab Melayu sebagai media pencatatan sejarah lokal. Inskripsi tersebut mencerminkan kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan pemerintahan dan masyarakat Sorkam pada masa itu, sekaligus menjadi bukti bahwa tradisi literasi keagamaan telah berkembang dengan baik di lingkungan kerajaan.Pada nisan lain yang berada di sisi selatan, kembali ditemukan kaligrafi Arab Melayu yang diawali dengan lafaz Bismillahirrahmanirrahim. Tulisan tersebut mengisahkan wafatnya Datuk Raja Amat, seorang tokoh penting di Negeri Sorkam, yang disebut meninggal pada hari Jumat di bulan Syawal tahun 1255 Hijriah. Keberadaan inskripsi ini memberikan gambaran bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki tradisi mendokumentasikan peristiwa penting melalui batu nisan. Informasi mengenai nama tokoh, waktu wafat, hingga penggunaan kalender Hijriah menjadi sumber sejarah yang sangat berharga dalam merekonstruksi perjalanan Kerajaan Sorkam serta perkembangan Islam di kawasan pesisir Tapanuli Tengah.Tidak hanya tokoh kerajaan, kompleks makam ini juga menyimpan nisan milik tokoh masyarakat lainnya. Pada salah satu nisan berbentuk pipih segi empat dengan puncak segitiga, terukir kaligrafi Arab Melayu yang menyebut nama Silimbayung Bili, seorang Melayu yang wafat pada 29 Zulhijjah 1303 Hijriah. Keberadaan nisan ini menunjukkan bahwa kawasan pemakaman tidak hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan, tetapi juga bagi tokoh-tokoh penting yang memiliki peran dalam kehidupan sosial masyarakat Sorkam. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kompleks makam ini merupakan pusat memorial yang merepresentasikan berbagai lapisan sejarah dan kehidupan masyarakat pada masanya.Keseluruhan elemen yang terdapat di Kompleks Makam Raja-Raja Sorkam membentuk sebuah narasi sejarah yang utuh tentang perjalanan sebuah kerajaan pesisir yang pernah berkembang di pantai barat Sumatera. Dari lokasi pemakaman yang strategis di atas bukit, bentuk nisan yang khas, hingga keberadaan inskripsi Arab Melayu yang masih dapat dibaca hingga sekarang, semuanya menjadi bukti nyata perpaduan antara budaya lokal dan ajaran Islam yang berkembang secara harmonis. Kompleks ini tidak hanya berfungsi sebagai situs pemakaman bersejarah, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lampau memaknai kehidupan, kematian, kepemimpinan, dan warisan budaya. Hingga kini, Kompleks Makam Raja-Raja Sorkam tetap menjadi salah satu tinggalan budaya penting yang memiliki nilai sejarah, arkeologi, religi, dan identitas lokal, sehingga keberadaannya layak untuk terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya Indonesia.
Lihat Detail →
Kompleks Istana Pematang Purba
Kompleks Istana Pematang Purba yang berdiri kokoh di dataran tinggi Kabupaten Simalungun seolah melempar kita kembali ke tahun 1864, era di mana Tuan Rahalim—Raja Purba ke-12 yang visioner—mulai memahat fondasi pusat pemerintahan yang agung ini. Perjalanan magis menelusuri ruang dan waktu di situs seluas dua hektar ini dimulai dari Harbangan, sebuah terowongan tanah sempit dan beratap yang berfungsi sebagai gerbang utama sekaligus benteng pertahanan militer yang sangat jenius pada masanya. Ketika melewati lorong yang remang-remang ini, setiap tamu dipaksa untuk berjalan merunduk, sebuah rancangan arsitektur yang sengaja diciptakan demi tujuan ganda: sebagai bentuk penghormatan kultural yang mutlak kepada otoritas raja, sekaligus strategi taktis agar para pengawal kerajaan yang bersiaga di atas benteng dapat dengan mudah memantau, mengidentifikasi, dan melumpuhkan setiap potensi ancaman dari luar sebelum mereka menginjakkan kaki di halaman utama istana.Begitu keluar dari kegelapan terowongan Harbangan, mata Anda akan langsung disambut oleh lanskap hijau yang megah, didominasi oleh sebuah mahakarya teknik sipil vernakular abad ke-19 yang tiada bandingnya, yaitu Rumah Bolon Purba. Istana utama yang berwujud rumah panggung raksasa ini berdiri tegak berkat topangan puluhan tiang kayu gelondongan utuh berdiameter besar, di mana seluruh strukturnya dirakit secara ajaib menggunakan sistem pasak kayu tradisional tanpa melibatkan sebatang paku besi pun, membuktikan betapa tingginya pemahaman geometri dan kearifan lokal masyarakat Simalungun kuno. Pada bagian puncaknya, atap berbahan ijuk yang melengkung tajam menyerupai pelana kuda dihiasi oleh deretan tanduk kerbau asli yang disusun vertikal; setiap pasang tanduk tersebut bukan sekadar dekorasi, melainkan sebuah kronik visual hierarkis yang menandakan jumlah generasi raja yang telah berhasil memimpin kerajaan dengan adil dan makmur. Memasuki ruang dalam Rumah Bolon yang sunyi dan sarat akan aroma kayu tua, Anda akan merasakan atmosfer domestik yang sakral dengan tata ruang terbuka minim sekat, namun diatur oleh hukum adat yang sangat ketat untuk memisahkan ruang pribadi raja, permaisuri, belasan selir, serta anak-anak kerajaan dalam sebuah harmoni kehidupan istana yang teratur.Kompleks ini tidak dirancang sebagai tempat tinggal belaka, melainkan sebuah pusat peradaban, diplomasi, dan penegakan hukum yang mandiri melalui bangunan-bangunan pendukung yang mengelilingi istana utama. Tepat di sebelah Rumah Bolon, berdiri Balai Bolon, sebuah aula terbuka yang berfungsi sebagai gedung parlemen kerajaan tempat Raja Purba duduk di atas singgasananya untuk memimpin sidang adat, memutuskan perkara hukum rakyatnya, serta menerima utusan diplomatik dari kerajaan tetangga dengan penuh wibawa. Kehidupan sosial dan pertahanan kerajaan semakin diperkuat oleh kehadiran Jambur, sebuah bangunan publik tempat para pemuda desa ditempa secara fisik dan mental melalui tugas ronda malam serta pelestarian seni tutur, sementara di sudut lain terdapat Pattangan, anjungan tinggi tempat raja mengasingkan diri sejenak untuk bermediasi dan mengamati hamparan wilayah kekuasaannya. Di antara jejak-jejak sunyi tersebut, keberadaan lesung batu tua di halaman kompleks melengkapi narasi kehidupan sehari-hari istana, menjadi saksi bisu ritme kehidupan para dayang yang menumbuk padi sambil bersenda gurau, sekaligus menyimbolkan ketahanan pangan kemakmuran Kerajaan Purba yang kini abadi sebagai museum terbuka yang terus membisikkan kisah kejayaan masa lalu kepada dunia modern.
Lihat Detail →
Candi Manggis
Candi Manggis berdiri sebagai saksi bisu yang membisu di bawah bentangan langit Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, tepatnya di kawasan terpencil Desa Manggis, Kecamatan Batang Lubu Sutam. Bagi mata awam yang melintas, tempat ini mungkin hanya terlihat seperti bentang alam biasa, namun bagi para pencinta sejarah, area ini adalah sebuah gerbang waktu yang terkunci rapat. Kompleks situs cagar budaya nasional ini menempati lahan seluas kurang lebih 2.500 meter persegi. Alih-alih menyambut pengunjung dengan kemegahan pilar batu atau relief yang menjulang tinggi, wujud aslinya kini sepenuhnya tersembunyi di balik gundukan tanah misterius dan rimbunnya vegetasi liar serta semak belukar yang seolah sengaja melindungi rahasia di dalamnya.Di balik kesunyian lansekap hijau tersebut, struktur utama bangunan purbakala berukuran sekitar 30 meter persegi diperkirakan terkubur dalam pelukan bumi. Berdasarkan catatan arkeologi, para ahli menduga kuat bahwa Candi Manggis merupakan bagian dari warisan Kerajaan Pannai, sebuah kerajaan bercorak Buddha yang pernah berjaya pada abad ke-11 hingga ke-14 Masehi di sepanjang daerah aliran sungai Barumun dan sosa. Di masa keemasannya, situs ini diperkirakan berfungsi sebagai biaro tempat pemujaan suci, meditasi, sekaligus pusat spiritualitas masyarakat kuno. Kompleks percandian di wilayah Padang Lawas pada umumnya tidak hanya berdiri sebagai rumah ibadah, melainkan juga dirancang sebagai pusat permukiman yang dilengkapi dengan benteng pertahanan alami berupa parit dan tembok tanah gunduk. Keberadaan Candi Manggis mengukuhkan bahwa kawasan pedalaman Sumatera Utara ini dahulu kala merupakan jalur peradaban yang ramai dan bernilai teologis tinggi.Namun, perjalanan waktu dan dinamika alam membawa takdir yang sunyi bagi peninggalan berharga ini. Minimnya dokumentasi tertulis dari masa lampau serta faktor kerusakan struktural yang masif membuat proses rekonstruksi sejarah Candi Manggis menghadapi tantangan yang sangat besar. Bahkan, laporan lokal menyebutkan kondisi fisiknya kian terancam dan makin sulit diidentifikasi akibat dampak bencana alam, termasuk terjangan banjir bandang di masa lalu yang kian mengikis sisa-sisa permukaan tanahnya. Kendati wujud fisiknya tidak seutuh tetangganya yang megah seperti Candi Sipamutung atau Candi Sangkilon nilai historis yang melekat pada Candi Manggis tetap tidak memudar. Statusnya yang diakui sebagai Cagar Budaya Nasional menegaskan bahwa setiap jengkal tanah di bawah gundukan semak tersebut menyimpan memori kolektif bangsa yang sangat berharga. Candi Manggis kini tetap berdiri dalam kesunyiannya, menjadi sebuah monumen abadi yang menanti sentuhan riset arkeologis masa depan untuk kembali menguak kemegahan kisah yang telah lama padam.
Lihat Detail →
Provinsi
Lihat 32 situs lainnya →
Batu Tettal Berutu Permang-Mang Lebbuh Nusa
Batu Tettal Berutu Permang-mang Lebbuh Nusa merupakan objek cagar budaya berbentuk prasasti berbahan batu pasir (sandstone) yang terletak di kawasan hutan Desa Lae Langge Namuseng, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Secara fisik, batu prasasti kuno ini memiliki ukuran panjang 82 cm, lebar 46 cm, serta tebal 23 cm, dan memuat pahatan tulisan sebanyak 11 baris yang menggunakan aksara Pakpak. Aksara tersebut merupakan modifikasi lokal yang bernilai kreatif tinggi dari turunan aksara Pallawa atau aksara Sumatera Kuno. Keberadaan prasasti ini di pedalaman menjadi bukti nyata terjadinya evolusi peradaban dan akulturasi budaya masa lampau antara masyarakat lokal penghasil kemenyan dengan para pedagang India Selatan yang masuk melalui bandar internasional Barus.Situs tempat prasasti ini berada merupakan sebuah kompleks megalitik sakral yang menyimpan total 12 buah tinggalan arkeologis kuno, yang terdiri atas 1 batu prasasti, 5 batu perabuen (wadah abu leluhur), dan 6 batu menhir. Area inti mejan dikelilingi oleh tembok pembatas berukuran 5,5 x 5,5 meter di dalam lahan halaman luas yang mencapai 15 x 15 meter. Salah satu ciri khas yang paling unik dari situs ini adalah adanya struktur bangunan modern (dibuat tahun 2017) berbentuk mengerucut ke langit yang menampilkan relief seorang manusia sedang menunggangi seekor babi menghadap ke arah utara. Visualisasi ini sangat berbeda dengan situs mejan di tempat lain yang umumnya bermotif manusia menunggangi gajah. Motif ini merekam sejarah lisan marga Berutu, di mana sang leluhur (Berutu Permang-mang) memilih mengalah akibat perbedaan pendapat di kampung lama (Lebbuh Lumerah), lalu bermigrasi menunggangi babi untuk membuka perkampungan baru yang kini dikenal sebagai Lebbuh Nusa.Saat ini, kondisi fisik cagar budaya tersebut dinilai kurang terawat karena permukaan batunya mulai aus dan tertutup oleh lumut. Kompleks ini juga memiliki tingkat keterancaman yang cukup tinggi; selain karena faktor pelapukan alami, beberapa batu mejan di situs tersebut dilaporkan telah hilang dicuri pada tahun 2015 sebelum area tersebut dipugar. Mengingat nilai pentingnya yang sangat besar bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan penguatan karakter kebudayaan masyarakat Pakpak, objek ini sebelumnya telah dilindungi melalui SK Bupati Pakpak Bharat pada 14 Oktober 2022. Melalui naskah kajian ini, Tim Ahli Cagar Budaya merekomendasikan agar Batu Tettal Berutu Permang-mang Lebbuh Nusa secara resmi ditingkatkan statusnya menjadi Benda Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara agar kelestariannya dapat dikelola, dilindungi, dan dimanfaatkan secara lebih optimal.
Lihat Detail →
Pesanggrahan Sultan Sulaiman
Berdiri di atas puncak bukit pada ketinggian 967 meter di atas permukaan laut, Pesanggrahan Sultan Sulaiman menatap anggun hamparan hijau rimba Bukit Barisan di Desa Gunung Paribuan, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara sekitar 60 kilometer dari ibukota Lubuk Pakam. Berada tepat di atas kawasan pemukiman penduduk desa, keberadaan bangunan ini di titik tertinggi memancarkan pendar keagungan dan simbol kehormatan yang menaungi wilayah sekitarnya. Secara arsitektural, pesanggrahan ini mengusung perpaduan gaya masif Eropa dengan kearifan lokal berwujud rumah panggung yang dirancang secara rasional dan fungsional untuk mengantisipasi gangguan satwa liar maupun serangga. Kendati saat ini wujud utuhnya telah tergerus waktu, jejak tata ruang dan kemegahannya masih terpatri jelas pada tapak struktur seluas 360 meter persegi yang berdiri di atas hamparan lahan seluas 1.260,25 meter persegi. Sisa kepurbakalaan bangunan ini ditandai oleh jejaring 33 tiang pondasi berjarak 3 meter antar-tiang, dengan masing-masing tiang berdimensi tebal 50 x 50 cm serta ketinggian 133 cm. Menyambut kedatangan di bagian depan struktur, berdiri kokoh tujuh anak tangga utama yang terbuat dari susunan batu sungai dengan balutan campuran pasir dan semen. Jejak aktivitas masa lalu semakin lengkap dengan ditemukannya tapak pondasi bekas dapur berukuran 5 x 5 meter di area dalam, serta sebuah sumur di sisi kanan struktur yang kini telah tertimbun tanah menjadi saksi bisu dari ruang kehidupan yang pernah berdenyut hangat di tengah sejuknya alam pegunungan.
Lihat Detail →
Situs Omo Hada Fonali Daeli Kabupaten Nias Barat
Di jantung Desa Sitolubanua, Kecamatan Lahomi, Kabupaten Nias Barat, membusung sebuah mahakarya arsitektur vernakular peninggalan masa lampau yang memukau mata, yakni Omo Hada Fönali Daeli. Bangunan panggung berbentuk oval ini menyerupai siluet bahtera raksasa yang seolah siap mengarungi samudra waktu. Berdiri megah di atas lahan seluas 192 meter persegi, keelokannya langsung terpancar dari atap rumbia yang membumbung curam hingga ketinggian 16 meter. Tak kurang dari 20.000 lembar daun rumbia dianyam rapi menyelimuti bubungan atap, memayungi deretan jendela horizontal (zara-zara) dan jendela atap (tuwu-tuwu) yang dirancang khusus untuk menangkap embusan angin serta pendaran cahaya mentari pagi. Keajaiban fisik bangunan ini sesungguhnya berakar pada kecerdasan arsitektur tradisional suku Nias yang tak lekang oleh zaman. Seluruh struktur kayunya berdiri kokoh tanpa menggunakan sebutir paku besi pun, melainkan mengandalkan sistem pasak kayu ulin dan kayu Manawa yang saling mengunci dengan presisi tinggi. Untuk menaklukkan ancaman alam dan gempa, rumah ini bertumpu pada Dane-dane Ehomo, yakni batu-batu pipih raksasa yang menjadi landasan elastis bagi tiang-tiang penyangga utamanya (Ehomo) setinggi 1,5 meter dari atas tanah. Di antara pilar-pilar tersebut, terdapat empat tiang penyangga utama yang wajib berdiri berpasangan; sebuah perlambang filosofis tentang keutuhan ikatan suami-istri sekaligus empat pilar pendirian suatu negeri atau banua yang mencakup unsur Sanuhe, Tambalina, Fahandrona, dan Sidaöfa. Memasuki bagian dalamnya, pengunjung akan disambut oleh tata ruang yang menjadi cerminan langsung dari stratifikasi sosial masyarakat Nias masa lampau. Lantai rumah yang terbuat dari belahan kayu Simalawuo dirancang berundak dengan makna hierarkis yang sangat kental. Undakan terendah atau talu zalo diperuntukkan bagi masyarakat umum, tingkat menengah disebut botonilui, sementara pelataran tertinggi yakni Salagötö merupakan singgasana kehormatan mutlak bagi sang Balugu. Lantai yang kokoh ini bukan sekadar pijakan semata, melainkan instrumen vital dari tradisi famadögö Omo, yaitu ritual menggoncangkan rumah sebelum dihuni, dan bagian dari ritual Fangoni di mana lantai ditumbuk sebagai wujud kesepakatan saat menjaga jenazah kerabat. Kemegahan Omo Hada ini tidak bisa dipisahkan dari manifestasi kebesaran sosok pendirinya, yakni Fönali Daeli atau yang akrab disapa Ama Zarimani. Sebagai putra dari Balugu Tuhalalai—seorang Tuhenori Ulu Lahomi dan tokoh pejuang karismatik penentang penjajahan Belanda—Fönali Daeli mewarisi wibawa serta keberanian yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, ia berhasil melaksanakan pesta adat Owasa berkali-kali hingga menyandang empat gelar kebangsawanan tertinggi, menjadikannya sosok yang amat disegani dengan sebutan Balugu Sihönö Ana'a, Balugu Hilitöra, Balugu Sangahae, dan Balugu Dawido. Begitu besarnya kharisma sang Balugu, sehingga pada masa awal pembangunannya di tahun 1943, tentara Jepang di wilayah tersebut bersedia tunduk membantu proses teknis pembangunan, mulai dari pencarian material kayu keras di tengah hutan hingga pengangkutannya ke lokasi berdirinya Omo Hada di Sitolubanua. Kini, Omo Hada Fönali Daeli berdiri lebih dari sekadar tumpukan kayu balok, melainkan sebuah monumen peradaban yang merekam jejak antropologis dan maritim leluhur Nias. Bentuk rumahnya yang oval dipadukan dengan ukiran ornamen Ni'ohulayo di dindingnya merupakan kenangan kolektif atas akar tradisi kemaritiman masa lampau, merepresentasikan nenek moyang mereka yang berlayar menggunakan perahu menyusuri sungai menuju pedalaman. Meski usianya yang telah melampaui delapan dekade kini menampakkan pelapukan di hampir seluruh bagiannya akibat gerusan iklim, jiwa keagungannya tak pernah pudar. Ditetapkannya bangunan ini sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sumatera Utara merupakan sebuah wujud pelestarian yang krusial, guna memastikan bahwa mahakarya agung dari tanah Lahomi ini akan terus bercerita dan mewariskan nilainya kepada generasi-generasi mendatang.
Lihat Detail →
Kab/Kota
Lihat 1 situs lainnya →
Kuil Shri Mariamman
Kuil ini adalah kuil Hindu yang terletak di kawasan Kampung Madras. Nama Kuil Sri Mariamman merujuk pada ibu alam semesta Dewi Shri Mariamman yang memilih untuk tinggal di tempat kecil dan terpencil. Menurut kepercayaan Umat Hindu, Dewi Mariamman adalah dewi yang dipercayai mempunyai kekuatan yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, menghilangkan wabah penyakit berupa penyakit ringan maupun penyakit berat dan dapat menurunkan hujan ketika mengalami musim kemarau yang tandus. Kuil ini dikelilingi oleh dinding batu setinggi 2,5 m yang dipenuhi ukiran dan patung. Bangunan kuil ditutupi oleh mahkota kuil yang menampilkan patung-patung dewa dan dewi. Pintu gerbang kuil dihiasi sebuah gopuram, yaitu menara bertingkat yang biasanya dapat ditemukan di pintu gerbang kuil-kuil Hindu dari India Selatan atau semacam gapura. Bangunan ini mengadopsi bangunan candi di Indonesia dan bangunan-bangunan di India. Di dalam kuil juga terdapat berbagai ornament dan patung-patung yang menggambarkan ajaran Hindu dan budaya India. Bangunan memiliki dimensi panjang 17 meter, lebar 8 meter, tinggi 12 meter dengan luas bangunan 430 m2 dan luas lahan 756 m2. Material bangunan menggunakan bata, batu, kayu, tanah, beton bertulang dengan ornamen antropomorfik, manusia, binatang, dan kombinasi lainnya. Atap berbentuk tumpang dengan hiasan lampu.
Lihat Detail →
Data & Fakta
18
Cagar Budaya Peringkat Nasional
32
Cagar Budaya Peringkat Provinsi
1
Cagar Budaya Peringkat Kab/Kota
0
Objek Diduga Cagar Budaya Kab/Kota