Badge

SigardA

Sistem Informasi Geografis Cagar Budaya

Jelajahi · Lestarikan · Promosikan

Objek Cagar Budaya

Menampilkan 15 Objek

Masjid Azizi

Masjid Azizi

Perjalanan menuju Masjid Azizi dimulai dari Kota Medan, sekitar satu setengah jam berkendara ke arah utara melalui Jalan Lintas Medan–Banda Aceh. Dari kejauhan, kubah-kubahnya yang megah mulai tampak menjulang, seolah menjadi penanda bahwa kita telah tiba di Tanjung Pura, ibu kota lama Kesultanan Langkat. Tepat di tepi jalan utama, berdiri sebuah masjid yang bukan hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga saksi bisu kejayaan sebuah kerajaan Melayu yang pernah berpengaruh di Sumatera Timur.Memasuki kawasan masjid, suasana terasa begitu lapang dan teduh. Halaman yang luas memudahkan para pengunjung memarkir kendaraan, sementara tembok yang mengelilingi kompleks memberikan kesan tenang dan terjaga. Di sisi barat masjid terdapat kompleks makam Raja-raja Kesultanan Langkat, mengingatkan bahwa tempat ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perjalanan sebuah kesultanan.Masjid ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 18.000 meter persegi dan mampu menampung hingga 2.000 jemaah. Nama Masjid Azizi diambil dari nama pendirinya, Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmat Syah, Sultan Langkat yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap perkembangan agama, pendidikan, dan kebudayaan. Pada masa pemerintahannya, lahirlah sebuah masjid yang hingga kini tetap menjadi kebanggaan masyarakat Langkat.Begitu melangkah melewati pintu utama, mata akan langsung dimanjakan oleh kemegahan arsitekturnya. Masjid Azizi bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan sebuah karya seni yang memadukan beragam budaya dalam satu harmoni. Sentuhan arsitektur Melayu berpadu dengan gaya Turki, Arab, Eropa, hingga Cina. Perpaduan tersebut menghadirkan karakter bangunan yang unik megah namun tetap anggun.Setiap sudut masjid menyimpan detail yang menarik untuk diamati. Enam belas jendela bergaya gotik Eropa dihiasi stained glass berwarna-warni yang berpadu indah dengan ornamen Melayu bermotif bunga melati. Di berbagai bagian bangunan tampak ukiran bunga cengkeh, motif genting tak putus, dan awan larat yang memperkaya keindahan visualnya. Ketika cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela kaca, suasana di dalam masjid terasa hangat dan penuh ketenangan.Jika memperhatikan lebih dekat, hampir setiap bagian masjid dipenuhi kaligrafi Arab yang ditulis dengan indah. Tulisan-tulisan tersebut menghiasi pintu, dinding, mimbar, kubah, hingga menara. Kaligrafi yang terpahat bukan sekadar hiasan, melainkan rangkaian ayat suci Al-Qur'an, hadis, doa, dan pesan-pesan keagamaan. Tercatat terdapat puluhan ayat Al-Qur'an, puluhan hadis, serta doa-doa yang diukir dengan penuh ketelitian, menjadikan Masjid Azizi sebagai salah satu masjid yang kaya akan warisan epigrafi Islam di Indonesia.Di sisi kiri pintu utama terdapat sebuah prasasti berhuruf Arab-Melayu yang menjadi penanda sejarah berdirinya masjid ini. Prasasti tersebut menceritakan bahwa Masjid Azizi dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Aziz Djalil Rahmat Syah dan diresmikan pada 13 Juni 1902 atau bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1320 Hijriah. Seiring berjalannya waktu, masjid ini telah beberapa kali dipugar untuk menjaga keindahan dan kekokohannya tanpa menghilangkan karakter aslinya.Melangkah ke ruang utama, perhatian akan tertuju pada mimbar yang berdiri anggun di bagian depan. Mimbar berbahan kayu jati ini dihiasi ukiran floral yang halus dengan dominasi warna cokelat dan kuning keemasan. Di sisi kanan dan kirinya terpahat kaligrafi nama Sultan Abdul Aziz Djalil Rahmat Syah dalam aksara Arab-Melayu. Keindahan ukiran tersebut berpadu dengan makna religius yang mengingatkan setiap jemaah akan pentingnya iman dan amal saleh sebagai jalan menuju kebahagiaan di akhirat.Saat mendongakkan kepala, keagungan kubah Masjid Azizi semakin terasa. Kubah utama berdiameter sekitar 13 meter menaungi ruang salat utama dengan bentuk segi delapan yang kokoh. Di sekeliling serambi berdiri tiga kubah berbentuk bawang atau onion dome, sementara lima belas kubah kecil berbentuk persegi melengkapi komposisi bangunan. Seluruh kubah dilapisi tembaga berwarna gelap dan menggunakan konstruksi rangka besi yang pada masanya merupakan teknologi bangunan yang sangat maju. Bagian dalam kubah dilapisi kayu damar yang dipercaya mampu bertahan dari serangan rayap sekaligus memberikan kesan hangat pada interior masjid.Kemegahan masjid semakin lengkap dengan lampu gantung yang didatangkan langsung dari Turki. Lampu hias tersebut memiliki sembilan puluh bola lampu yang ketika dinyalakan memancarkan cahaya lembut, memperkuat nuansa megah sekaligus khusyuk di dalam ruang ibadah.Lebih dari satu abad telah berlalu sejak pertama kali didirikan, namun Masjid Azizi tetap berdiri dengan anggun. Ia bukan hanya menjadi tempat umat Islam menunaikan ibadah, tetapi juga menjadi simbol kejayaan Kesultanan Langkat, perpaduan budaya dunia, serta bukti tingginya pencapaian seni arsitektur Nusantara pada awal abad ke-20. Setiap ornamen, setiap ukiran, dan setiap kaligrafi di dalamnya seakan mengajak setiap pengunjung untuk berhenti sejenak, menikmati keindahannya, sekaligus menyelami kisah sejarah yang masih hidup hingga hari ini.

Lihat Detail →

Candi Sipamutung

Candi Sipamutung

Candi Sipamutung berada di Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas. Lokasi Candi berada di dataran rendah di dekat Sungai Barumun dan dikelilingi perbukitan  rendah  dan  kebun  sawit,  menciptakan  lanskap  budaya  alami  yang  khas (Hasibuan,  2023;  Mendrofa  &  Hastuti,  2023). Komponen biaro yang masih ada saat ini, antara lain biaro induk, tembok bata, gapura atau gerbang pintu masuk dan temuan lain (AA Ajis : 2018)   1.   Biaro Induk dan Biaro Perwara Biaro induk terbuat dari bata menghadap ke timur dengan denah bujur sangkar berukuran 11 X 11 meter serta memiliki tinggi 13 meter. Secara vertikal profil biaro terdiri atas batur, kaki, badan, dan atap biaro. Batur memiliki ukuran tinggi 2,25 meter sedangkan kaki biaro  memiliki ukuran tinggi 1,25 m. Terdapat tangga naik pada penampil di sisi timur. Profil yang terlihat pada kaki biaro adalah persegi empat dan sisi genta. Tubuh biaro berbentuk persegi empat dengan pintu masuk di sisi timur, Kumai bawah dan atas biaro berupa birai rata (patta). Pada bilik biaro tidak dijumpai arca. Atap biaro berbentuk segi empat bertingkat tiga. Pada bentuk aslinya tingkat paling bawah di setiap sisinya dihiasi 5 stupa, pada tingkat kedua di setiap sisi dihiasi 4 stupa, dan pada tingkat paling atas berupa satu stupa yang lebih besar dari pada stupa-stupa di bawahnya. Namun karena kerusakan yang dialami maka atap biaro ini hanya tinggal 7 fragmen stupa saja, yaitu pada atap sisi utara. Sedangkan kemuncak atap sudah tidak ada.  .   Biaro Perwara A  Biaro Perwara A terletak 4 meter ke arah timur dari biaro Induk. Bangunan ini berdenah segi empat dengan ukuran 10,25 X 9,90 meter dan tinggi 1,15 meter. Bangunan tersebut terbuat dari bata yang berbentuk batur pendopo (mandapa).    b. Biaro Perwara B Biaro Perwara B terletak 5 meter ke arah utara dari Biaro Induk, terbuat dari batu pasir (sandstone), berdenah segi empat, dan mempunyai tangga masuk pada keempat sisinya. Biaro perwara B berukuran 11,60 X 10,60 meter, dengan tinggi 2,10 meter, berupa bagian "kaki" biaro yang terlihat jelas profil kumai bawah yang sangat mirip dengan profil candi Jawa Tengah. Kumai bawah terdiri dari birai rata (patta), birai padma dan birai setengah lingkaran (kumuda) (Suleiman 1976: 20). Terdapat umpak-umpak penyangga tiang yang berderet di setiap sisi. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa tiang bangunan menggunakan kayu dan atap bangunan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama. Di bagian atas biaro tersebut terdapat arca singa yang nampaknya tidak insitu, karena arca singa biasanya terletak di kanan kiri pintu sebagai penjaga.   c.     Biaro Perwara C Biaro Perwara C terletak di selatan Biaro Induk, terbuat dari bata yang berbentuk kaki biaro. Biaro tersebut mempunyai tangga naik di sebelah timur dengan 7 anak tangga dan di bagian atasnya terdapat semacam altar dari bata berbentuk curciform (bentuk curciform merupakan pengolahan lebih lanjut dari segi empat menjadi 16 sudut). Pada kaki (kumai bawah) biaro tersebut dihiasi birai padma dan birai rata (patta).   d.   Biaro Perwara D Biaro Perwara D terletak di selatan Biaro Perwara C, terbuat dari bata, berupa bagian kaki biaro. Biaro tersebut mempunyai tangga naik di sebelah timur dengan 8 anak tangga dan di bagian atasnya terdapat semacam altar dari bata berbentuk cruciform. Pada kaki biaro tersebut (kumai bawah) dihiasi birai padma, birai setengah lingkaran (kumuda) dan birai rata (patta).   e.      Biaro Perwara E Biaro Perwara F terletak di sebelah tenggara biaro induk, terbuat dari bata berbentuk mandapa setinggi 1 meter, dengan dua tangga berada di timur dan barat.   2.    Tembok Bata Pagar keliling mengelilingi sisi selatan, barat, utara, dan timur biaro, terbuat dari bata dengan lebar 1 meter dan tinggi 50 cm.   3.    Gapuran atau Pintu Masuk Gapura biaro berada di sisi timur, hanya tersisa setinggi 1 meter sehingga tidak diketahui apakah gapura ini semula berbentuk paduraksa atau candi bentar   4.  Temuan lain berupa makara, fragemen arca dan arca. Luas keseluruhan Biaro Sipamutung 1 x 2 kilometer. Terdiri atas kompleks biaro dan benteng tanah yang mengelilinginya. Kompleks Biaro terpencil di tengah padang ilalang dan semak belukar lebat. Halamannya dikelilingi pagar tembok ukuran 49 x 65 meter, tebal 1,1 meter membujur arah barat timur dengan gerbang masuk di sisi timur. Di halaman yang dikelilingi pagar tembok ada satu bangunan induk, enam bangunan perwara menghadap ke timur, enam biaro kecil, satu gapura, dan artefak lain seperti arca Bhairawa dari batuan tufa. Bangunan itu disusun dalam dua baris mengarah timur-barat.   Di baris belakang kompleks berdiri biaro induk diapit tiga bangunan kecil. Di baris depannya ada tiga bangunan kecil. Beberapa meter di depannya di pagar keliling ada reruntuhan gapura pintu masuk. Biaro induk berdiri di atas kaki berdenah bujur sangkar ukuran 11 x 11 meter dengan tinggi 3,1 meter. Tangga naik di sisi timur dengan 15 anak tangga. Di kiri dan kanan ada pipi tangga. Penampil di tangga naik kaki bangunan menjorok ke timur sejauh sembilan meter. Kaki bangunan tersebut mempunyai profil berupa bingkai segi empat dan sisi genta. Di atas kaki bangunan ada kaki badan bangunan berdenah bujur sangkar ukuran 8,2 x 8,2 meter dan tinggi 1,45 meter. Ada tangga naik ke bilik bangunan yang merupakan sambungan tangga naik di kaki bangunan. Disini ada lorong mengelilingi kaki tubuh bangunan dengan pagari setinggi 50 cm.  Tubuh bangunan berdiri di atas kaki tubuh bangunan. Denah tubuh bujur sangkar berukuran 5,7 x 5,7 meter dengan tinggi 4,6 meter.    Di sisi timur ada penampil yang merupakan tangga naik ke bilik bangunan. Di beberapa tempat di bagian luar badan bangunan ada hiasan sulur daun. Hiasan tersebut mengelilingi tubuh bangunan. Atapnya berdenah bujur sangkar sisinya empat meter bertingkat tiga. Sebagian besar atap rusak yang tersisa tujuh fragmen stupa di sisi utara. Di bagian yang tersisa (sisi utara) di puncaknya ada hiasan stupa. Tinggi atap yang tersisa 2,45 meter. Bagian atap dibuat bertingkat di setiap tingkatnya ada lantai tempat stupa kecil. Pada halaman Biaro Sipamutung ditemukan dua arca yang cukup besar dengan tinggi 1,5 meter. Arca tersebut adalah arca Mahakala dan Nandiswara dan beberapa arca lainnya. Selain itu, di Kompleks Percandian Biaro Sipamutung tersebar arca-arca baik utuh maupun fragmentaris.  

Lihat Detail →

Istana Maimun

Istana Maimun

Istana Maimun adalah istana Kesultanan Deli yang terletak di Kota Medan, Sumatera Utara.

Lihat Detail →

Candi/Biara Bahal III

Candi/Biara Bahal III

Di tengah hamparan persawahan dan permukiman masyarakat Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, berdiri sebuah peninggalan bersejarah yang menjadi saksi kejayaan peradaban masa lampau, yaitu Candi Bahal III atau yang dalam bahasa lokal Angkola dikenal dengan sebutan Biaro Bahal III. Situs ini terletak sekitar 400 meter di sebelah timur Biaro Bahal II dan menghadap ke arah tenggara, seolah menyambut setiap pengunjung yang datang untuk menelusuri jejak sejarah yang tersimpan di kawasan Padang Lawas.Perjalanan menuju Biaro Bahal III menghadirkan pengalaman yang unik. Meskipun hanya berjarak sekitar 100 meter dari jalan utama, pengunjung harus menyusuri jalan setapak, melintasi pematang sawah, dan melewati perkampungan penduduk. Jalur ini menghadirkan suasana pedesaan yang tenang dan memberikan kesan seolah sedang melakukan perjalanan kembali ke masa ketika kawasan ini menjadi pusat aktivitas keagamaan dan kebudayaan.Biaro Bahal III merupakan salah satu kompleks candi penting di kawasan Padang Lawas. Kompleks ini dikelilingi oleh pagar bata berukuran sekitar 42 × 35 meter dengan tinggi kurang lebih satu meter yang berfungsi sebagai pembatas kawasan suci. Sebuah gapura di sisi timur menjadi akses utama keluar-masuk kompleks, menandai batas antara ruang profan dan ruang sakral pada masa lalu. Di dalam area tersebut tidak hanya terdapat bangunan induk, tetapi juga bangunan perwara atau bangunan pendamping yang menjadi bagian dari tata ruang kompleks candi.Keagungan Biaro Bahal III tampak pada bangunan induknya yang berukuran sekitar 15 × 8,5 meter dengan tinggi mencapai 14 meter. Bangunan ini berdiri kokoh di atas batur setinggi 1,8 meter. Atapnya berbentuk persegi empat bertingkat tiga yang semakin mengecil ke bagian atas, menciptakan siluet megah yang khas. Menariknya, seluruh permukaan atap dibuat polos tanpa ornamen, memperlihatkan karakter arsitektur yang sederhana namun tetap monumental. Penelitian arkeologi juga mencatat bahwa di lokasi ini pernah ditemukan arca Vairocana berbahan perunggu, yang menunjukkan kuatnya pengaruh agama Buddha Vajrayana di kawasan Padang Lawas pada masa lalu.Sebagai situs yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan, Biaro Bahal III menyimpan beragam tinggalan cagar budaya yang masih dapat disaksikan hingga saat ini. Kompleks ini terdiri atas bangunan candi induk yang telah dipugar dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara. Selain itu, terdapat struktur candi perwara, pagar keliling bata, dan gapura yang juga telah dipugar untuk menjaga keutuhan kawasan bersejarah tersebut.Tidak jauh dari pagar keliling, masih terdapat sebuah struktur berupa gundukan tanah yang tetap berada pada posisi aslinya (in situ) dan belum dipugar, menyimpan potensi informasi arkeologis yang penting untuk penelitian di masa mendatang. Di depan tangga utama candi juga ditemukan dua lapik arca yang menjadi petunjuk keberadaan arca-arca yang pernah menghiasi bangunan suci ini.Berbagai temuan arkeologis lainnya, seperti fragmen arca Dwarapala yang kondisinya telah rusak, arca stambha, serta sejumlah fragmen arca lainnya, kini disimpan dan dirawat di gedung penyimpanan koleksi yang berada di kawasan Situs Biaro Bahal I. Temuan-temuan tersebut menjadi bukti nyata bahwa Biaro Bahal III pernah menjadi bagian penting dari jaringan pusat keagamaan Buddha yang berkembang di Padang Lawas berabad-abad lalu.Saat ini, Biaro Bahal III tidak hanya menjadi warisan budaya yang merekam perjalanan sejarah Sumatera Utara, tetapi juga menjadi pengingat akan tingginya pencapaian seni bangunan, spiritualitas, dan kebudayaan masyarakat masa lalu. Di tengah bentang alam pedesaan yang masih asri, situs ini terus berdiri sebagai penjaga memori peradaban, menghubungkan generasi masa kini dengan jejak sejarah yang telah bertahan selama berabad-abad.

Lihat Detail →

Istana Niat Lima Laras

Istana Niat Lima Laras

Lihat Detail →

Markas Pertahanan Raja Sisingamangaraja XII

Markas Pertahanan Raja Sisingamangaraja XII

Markas Pertahanan Raja Sisingamangaraja XII

Lihat Detail →

Kuil Shri Mariamman

Kuil Shri Mariamman

Kuil ini adalah kuil Hindu yang terletak di kawasan Kampung Madras. Nama Kuil Sri Mariamman merujuk pada ibu alam semesta Dewi Shri Mariamman yang memilih untuk tinggal di tempat kecil dan terpencil. Menurut kepercayaan Umat Hindu, Dewi Mariamman adalah dewi yang dipercayai mempunyai kekuatan yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, menghilangkan wabah penyakit berupa penyakit ringan maupun penyakit berat dan dapat menurunkan hujan ketika mengalami musim kemarau yang tandus. Kuil ini dikelilingi oleh dinding batu setinggi 2,5 m yang dipenuhi ukiran dan patung. Bangunan kuil ditutupi oleh mahkota kuil yang menampilkan patung-patung dewa dan dewi. Pintu gerbang kuil dihiasi sebuah gopuram, yaitu menara bertingkat yang biasanya dapat ditemukan di pintu gerbang kuil-kuil Hindu dari India Selatan atau semacam gapura. Bangunan ini mengadopsi bangunan candi di Indonesia dan bangunan-bangunan di India. Di dalam kuil juga terdapat berbagai ornament dan patung-patung yang menggambarkan ajaran Hindu dan budaya India. Bangunan memiliki dimensi panjang 17 meter, lebar 8 meter, tinggi 12 meter dengan luas bangunan 430 m2 dan luas lahan 756 m2. Material bangunan menggunakan bata, batu, kayu, tanah, beton bertulang dengan ornamen antropomorfik, manusia, binatang, dan kombinasi lainnya. Atap berbentuk tumpang dengan hiasan lampu.

Lihat Detail →

Data & Fakta

3

Cagar Budaya Peringkat Nasional

3

Cagar Budaya Peringkat Provinsi

1

Cagar Budaya Peringkat Kab/Kota

0

Objek Diduga Cagar Budaya Kab/Kota